Jika surga dan neraka tak pernah ada, masihkah kau sujud kepadaNya?
Seperti ketika orang tua menjanjikan hadiah jika anaknya berhasil mempelajari sesuatu dengan baik, dan menghukumnya jika berbuat kesalahan. Padahal bisa saja orangtua tersebut membiarkan anaknya tumbuh tanpa bimbingan. Lantas mengapa orangtua berusaha sedemikian rupa? Karena mengharap imbalan? Tidak. kasih ibu sepanjang jalan bukan? Hanya memberi tak harap kembali. Semuanya demi kebaikan sang anak,karena orangtua menyayanginya.
Demikianlah Tuhan mengirim rasulNya untuk memperingatkan manusia dengan kitab suci sebagai pedomannya. Bukan karena Tuhan perlu disembah. Tapi untuk membimbing manusia agar selamat dan sejahtera. Karena dalam melakukan apapun diperlukan pedoman dan panutan,tidak cukup hanya “yang penting hidup adalah berbuat kebaikan”. Tanpa pedoman akan sulit untuk menentukan yg baik dan yang buruk,yang benar dan yang salah. Tanpa panutan akan sulit untuk menerapkan pedoman dengan baik. pada akhirnya akan terbentuklah akhlak yang baik.
Bukan Tuhan yang membutuhkan manusia, tetapi manusia sebagai makhluklah yang membutuhkan Tuhan. Inilah makna tertinggi dari spiritual quotient,bukan karena adanya surga dan neraka.

