Spiritual quotient
Ada artikel mosaik cukup menarik yg ingin kubagi..
Seorang Aqwiya (muslim yg kuat kecintaannya pd Tuhan) senantiasa merindukan sholat,karena inilah media untuk “bertemu” dg Rabb. Baginya,sudah lewat masa ketika sholat sekedar memenuhi sebuah kewajiban.
Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra berkata, “Ada hamba yang beribadah kepada Allah karena ingin mendapatkan imbalan,itu ibadahnya kaum pedagang. Ada hamba yg beribadah karena takut siksaan,itu ibadahnya budak, dan ada sekelompok hamba yg beribadah karena cinta kepada Allah swt,itulah ibadahnya orang mukmin.
Mengharap “imbalan” atas ibadah,baik berupa pahala atau pengampunan dosa,wajar saja. Nabi Muhammad pun berkata, “siapa yg berpuasa karena iman dan semata-mata mengharap pahala,niscaya diampuni dosanya yg telah lalu” (HR Bukhari dan Muslim).
Namun beribadah dg motivasi karena ketakutan pada siksa neraka akibat dosa (fear motivation) menunjukkan kecerdasan spiritual paling rendah. Di atasnya ada motivasi hadiah (reward motivation) sebagai kecerdasan spiritual yang lebih baik. Tingkatan berikutnya adalah motivasi karena memahami bahwa kitalah yg membutuhkan untuk menjalankan ibadah agama kita. Dan tingkatan kecerdasan spiritual tertinggi adalah ketika kita menjalankan ibadah karena kita menyadari diri kita sebagai hamba Allah yang berusaha meraih cinta-Nya.
Ketika cinta hamba kepada Allah tak bertepuk sebelah tangan,maka dunia pun bakal mengikuti akhirat dalam genggamannya.
~taken from Alia magazine~

