my dad and his painting
lama tak melukis… setelah terakhir kali aku melihat ayah meniru lukisan pria berbadan kuda yang ditunggangi seorang wanita muda karya Basuki abdullah, untuk saat ini beliau masih lupa beberapa teknik melukis.
Adikku dan aku hanya berpesan agar ayah tak melukis sesuatu yang hidup lagi, kecuali dari jenis tumbuhan karena melukis sesuatu yang hidup sama dengan menyamai Tuhan yang menciptakan sesuatu tetapi sang pelukis tak bisa memberikan nyawa pada apa yang dilukisnya.
Memulai lagi mengasah bakat seninya, beliau memanfaatkan sisa-sisa cat tembok untuk mewarnai pintu rumah, menyulapnya menjadi lukisan tepi samudra dengan tebing dan perahu kecil. Kemudian menggunakan kain baju putihnya sebagai kanvas untuk melukis bunga dalam sebuah vas. Gambarnya timbul dan akan tampak lebih hidup jika dilihat dari jauh, seolah bukanlah lukisan. Melihat kesungguhannya mengingat kembali cara-cara melukis dengan baik, kami membantunya membeli kanvas, cat air dan perlengkapan lainnya.
Ayahku sangat mengidolakan Affandi. Menurutnya, karya lukisnya benar-benar terlihat hidup. Dan dia benar-benar menjiwainya. Ayah sering mengeluh tentang ruangan melukisnya yang menurutnya kurang cahaya dan Sayang sekali penglihatannya sudah mulai memburuk, padahal mood untuk menyelesaikan lukisan tepi danaunya tak tentu datangnya.
Bagaimanapun itu, selagi beliau masih bisa melukis, akan kuusahakan mendukungnya dan semoga Allah memberikan kemudahan untuk kami menggelar dan menjual karya-karyanya.

