May 19, 2009

itu ibuku

Filed under: Home sweet home - may @ 1:56 pm

itu ibuku..
wanita paruh baya berkostum hampir mirip pembantu rumah tangga (jika itu pendapatmu)
ya memang itu ibuku..
dia tak enggan menyapu lantai dan mengelap debu
walau jika dia mau, bisa saja tinggal tunjuk ini dan itu
dia ibuku..
jangan tanya seberapa besar yang tlah dia korbankan untukku
karena sekalipun kuberikan nyawaku, takkan sanggup membayar cintanya padaku

May 16, 2009

may

Filed under: Home sweet home - may @ 1:37 pm

banyak banget kejadian yang terjadi di bulan may ini. mulai dari harap-harap cemas nunggu hasil pengumuman ujian umum buat daftar s2, sibuknya terlibat dalam pernikahan 3 saudara-saudara sepupu (iyap 3! it’s a marriage season o.O ) dan wafatnya kakek tiriku ;_; ..

Ya Allah kalau raga ini bukan buatanMu, mungkin sudah butuh onderdil baru. tapi alhamdulillah, proses pendaftaran lancar.. mulai meribet-ribetkan diri di segala persiapan lamaran kilat sampai nikahnya kakak sepupuku. sangat-sangat mengharukan dan dari peristiwa-peristiwa tidak menyenangkan dari ke3 pernikahan tersebut memberiku banyak pelajaran tentang hidup.
Memberi lebih banyak lagi pandangan untuk menjajaki kedewasaan. tapi hal paling penting yang bisa disimpulkan dari ke tiganya adalah:

#- menikahi seseorang, bukan hanya menikah dengan sang kekasih saja, tetapi juga keluarganya. nah.. sejauh apa kita bisa menerima apapun keaadan keluarganya? syukur alhamdulillah kalo yg didapat adalah tipe keluarga harmonis.. perlu diingat bahwa kita juga menikah dengan keluarga besarnya.
#- wanita itu dinikahi atas sebab hartanya,kecantikannya,nasabnya dan agamanya.
Pilihlah yg baik agamanya.
#- ga cuman cinta aja modalnya!
Realistis saja, kebutuhan pokok harus bisa terpenuhi dong =p

dahgcueasbcusyadfgebjkg *tambah ngaco aja cara nulis blognya teu deh*

May 7, 2009

my dad and his painting

Filed under: Home sweet home - may @ 12:41 pm

lama tak melukis… setelah terakhir kali aku melihat ayah meniru lukisan pria berbadan kuda yang ditunggangi seorang wanita muda karya Basuki abdullah, untuk saat ini beliau masih lupa beberapa teknik melukis.
Adikku dan aku hanya berpesan agar ayah tak melukis sesuatu yang hidup lagi, kecuali dari jenis tumbuhan karena melukis sesuatu yang hidup sama dengan menyamai Tuhan yang menciptakan sesuatu tetapi sang pelukis tak bisa memberikan nyawa pada apa yang dilukisnya.

Memulai lagi mengasah bakat seninya, beliau memanfaatkan sisa-sisa cat tembok untuk mewarnai pintu rumah, menyulapnya menjadi lukisan tepi samudra dengan tebing dan perahu kecil. Kemudian menggunakan kain baju putihnya sebagai kanvas untuk melukis bunga dalam sebuah vas. Gambarnya timbul dan akan tampak lebih hidup jika dilihat dari jauh, seolah bukanlah lukisan. Melihat kesungguhannya mengingat kembali cara-cara melukis dengan baik, kami membantunya membeli kanvas, cat air dan perlengkapan lainnya.

Ayahku sangat mengidolakan Affandi. Menurutnya, karya lukisnya benar-benar terlihat hidup. Dan dia benar-benar menjiwainya. Ayah sering mengeluh tentang ruangan melukisnya yang menurutnya kurang cahaya dan Sayang sekali penglihatannya sudah mulai memburuk, padahal mood untuk menyelesaikan lukisan tepi danaunya tak tentu datangnya.

Bagaimanapun itu, selagi beliau masih bisa melukis, akan kuusahakan mendukungnya dan semoga Allah memberikan kemudahan untuk kami menggelar dan menjual karya-karyanya.

May 5, 2009

mommy

Filed under: Home sweet home - may @ 3:56 pm

“jika diumpamakan rasa sakit ketika tubuh kita dikuliti dari ujung rambut sampai ujung kaki, tidak akan bisa membayar 1/4 dari jasa ibu” - kata mamah dedeh

“jika dibandingkan seluruh amal ibadah kita dari lahir hingga mati, tak akan bisa digunakan untuk menebus satu kali tarikan nafas ibu saat ia berjuang melahirkan kita kedunia”- kata ustadzku

“dahulu kala, ada seorang pemuda yang sangat menyayangi ibunya yang adalah seorang musyrik. Setiap hari ia mengingatkan ibunya agar mengenal dan memeluk agama islam, namun sang ibu selalu menolak hingga pada akhirnya habislah titik kesabaran ibunya hingga beliau menghina dan mencaci nabi Muhammad saw. sang anak tersebut tak pernah sekalipun membantah kata-kata ibunya hingga pada hari itu, ia menangis dan mengadu pada nabi. Nabi tidak menyalahkan sang ibu, tetapi justru mendoakan agar Tuhan memberinya hidayah. Ketika pemuda tersebut pulang, kala itu pula sang ibu mengucap -ashaduallaillahaillallahwa ashhaduanlamuhammadarrosulullah-
sang ibu tersentuh karena pemuda tersebut tetap patuh dan tak pernah menyakiti hati ibunya sekalipun dia telah menghina rosulnya” ~cerita ustadzku

what else can i do for you in order to make you happy mom? please let me know

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Alex King