yang hilang
come to think of it… banyak banget yang hilang lately.. mulai dari dana dari babe yang sejak tau gw kerja, uda ga mo ngasih dana lagi.. kuliah pun brenti. Secara babe dari kecil uda bisa biayain dirinya sendiri. blom lagi meyesuaikan dengan anggaran yang musti banyak dipangkas karena aliran dana yang tidak sepadan.. gimana mo beli lapty baru klo gini caranya, sementara kerjaan kantor menuntut kapasitas lapty yg lebih baik lagi (sebenernya ku bertanya, loh bukannya seharusnya ini fasilitas dari kantor? kok malah kompu2 dikantor lebih engga sip dibanding lapty-ku yang dudul bin lemot ini).
.
tau-tau tengah hari pas lagi ngoding-ngoding dikantor dikabarin kalo si kucing meninggal di rumah dokter dimana dia dirawat inap 2 hari pasca operasi sesar.
Bukan yang gimana-gimana.. tapi kucing itu uda ada di keluarga gw sejak kurang lebih 8 tahun yang lalu, sejak dia masih kecil banget, terlantar didepan rumah, mengeong-ngeong kelaparan. Kucing ini yang nemenin gw disaat apapun, gangguin gw makan, ikut gw tidur, nemenin waktu lagi maen lapty. Dia suka bgt ma yang namanya chitato, ngedenger suara plastiknya diremes aja dia pasti langsung lari ngibrit memelas minta dikasih. Sebenernya ma babe udah nyuruh mum biar masang KB ke kucing tu itu biar ga hamil-hamil lagi, secara dia uda tua,maafkan aq klo ternyata kmu juga mengidap penyakit darah tinggi karna ku sering memberimu daging kambing T_T bukan maksud hati membuatmu sakit tp kau taw sendiri mum selalu ngasih makan sate kambing kalo ku mulai sakit2an, sementara gw ga suka kambing x.x;. Bener aja waktu itu mum nemuin dia terkapar di teras rumah, sudah tak berdaya dengan satu kaki bayinya menjulur keluar..
mum nangis tak terelakkan karena dia ga tau gimana caranya nolongin si kucing, akhirnya babe suruh bawa tu kucing ke dokter(i wish i was there). yang akhirnya dioperasi, dan meninggal 2 hari kemudian beserta bayi2nya. si kucing dikebumikan di halaman rumah nenek yang masih ada tanah kosongnya. rest in peace min.. we will never forget you..
semakin banyak deadline dikantor semakin fisik yg lemah ini kalah, ditambah dengan tuntutan mengejar ketertinggalan kuliah.. yup harus segera selesai.. but gimana caranya bagi waktu? sementara deadline kantor semakin tak kenal ampun dan manpower juga minim, tak tega rasanya ku meninggalkan project leader kuw bgitu saja…
penyakit-penyakit walpun bukan kelas berat mulai sering menghampiri dan this is it… i gotta prioritize apa yg mesti gw kerjain. bukan kapasitas saia. saia ga sanggup ngerjain semuanya sekaligus, sementara kerja jadi ga konsen karena bingung mikir paper yang mesti dikumpul ke dosen, metode pemrograman yang sumpah gw baru denger kali itu yg musti juga dipikirkan.
akhirnya bos memberi keringanan untuk tidak full kerja, dia cuma berpesan agar tetap tidak meninggalkan kerjaan kantor gimana pun juga, walo tidak sebanyak sebelumnya. tapi ketika dituntut harus ngebut , ngumpulin bab 3, bab 4 , program dalam 1 minggu karena diburu pendaftaran sidang..
pagi itu nenek meninggal dunia… dan paman segera menelponku untuk pulang.. bingung bukan kepalng ku saat itu, ngejar deadline dosen, maju sidang, atau pulang. akhirnya kuputuskan untuk pulang. tak membawa apapun selain baju yang disandang kala itu dan dompet. tak sanggup berpikir lebih jauh untuk mengemas apapun. pikiran serasa ringan melayang, sampai keluar dari taksipun langsung dipapah kedalam rumah nenek, kayak uda ga kuat jalan sendiri. entah karena anemianya kambuh ato karena blom sarapan ato karena semalem begadang. teu deh. so there was her.. berbaring tak bergerak lagi, orang2 langsung memapahku masuk melarangku menyentuhnya, walau ku ingin sekali melihatnya tuk yang terakhir kali. beruntung masih bisa ikut ke acara pemakamannya. neneklah yang merawatku sedari kecil. dan satu-satunya hal terakhir yang kulakukan padanya hanya menyuapinya puding. itu saja. penyesalan selalu datang, ketika tanya menyapaku dengan “mengapa tak kau lakukan lebih banyak hal untuknya ketika dia masih -ada-?”
saat itu aku hanya bersimpuh dipangkuan kakek dan mendengarnya menceritakan apa yang terjadi sebelumnya. ibuku.. walopun terlihat sangat letih masih sibuk mendampingi para tamu yang datang berduka cita. walaupun banyak yang membantu, kami masih harus bolak-balik dari rumah kami dan ke rumah nenek, merapikan barang2 dsb. ku bermaksud untuk segera balik cepat.. meneruskan kejar deadline dosen meski ku tau harapan tipis bisa nyelesein semua dalam waktu 1 minggu. tanpa gw cerita, kakakku segera melarangku meninggalkan rumah. “aq tau kamu mo ngerjar deadline, tapi kamu juga musti perhatiin kesehatan. dalam kondisi kayak gini kamu mana bisa konsen ngerjain? udah lemes gitu kamu tuh lg sakit”. Maksut hati pengen menolak saja sarannya tapi klo dipikir, balik juga ntar ga dianterin, balik sendiri pasti tambah capek n tambah sakit. mana printer masih gw titipin di THR pula. Selamatan demi selamatan digelar.. segala konsep dikepala tentang bab3 ,bab 4 , program entah kemana perginya
kembali… menghadap bos dan meminta perpanjangan keringanan… maafkan saya yang tidak bisa mengatur waktu ini dan lepas tangan dari project yang seharusnya ku masih terlibat di dalamnya. tp ga brani kembali kedosen karena blom ngerjain apa-apa. what should i do? mana blom blajar sama sekali soal metodenya… tanya sana-sini minta daftar pustakanya dn minta diajarin skalian gmana caranya. mana yg harus di prioritaskan dulu? metodenya ka? karena tanpa mengerti itu gmn gw ngerjain programnya? laporannya ka? karena suda lama tidak menyetor apapun. huaaaaaaaa………………….
begitu ketemu temen dan dikasih tutorial(karena nyari2 diperpus dan di internet ga ada, uda liat laporan2 mahasiswa terdahulu juga tapi langkah pengerjaannya kurang jelas) yang lumayan detail cara-caranya, plus diceritain juga pengalaman dia sidang gmn. di wanti-wanti aja soal pertanyaan yg bikin down semuanya. “coba tanyain ke dosenmu, kalo ada pertanyaan seperti itu gmn”. Begitu ku tanyakan… hancurlah semua kepercayaannya padaku, ditambah dengan no progress-ku selama ini plus acara menghilang begitu saja. ku sudah meminta maaf, tapi tentu saja karena ku memang salah…. tidak bisa di redo lagi. gak ngerti deh mesti minta maaf kayak gimana lagi. sumpah i didn’t mean it. ga ada maksut sama sekali untuk bersikap kurang menghargai atau gimana, dan memang belum pernah bertanya ke dosen lain manapun, hanyalah pesan dari teman yang memperhatikan saya, agar pertanyaan tak terjawab yang terjadi padanya tidak terjadi padaku atau minimal jika terjadi, ku tau harus menjawab apa. memang pantas dihukum. tapi masih blom menyerah sebelum ada kata kalau beliau tidak mau lagi menerima, insyaallah ga akan ngulangin lagi kesalahan yang sama. mohon dengan sangat untuk dibimbing lagi. dari yang sudah hilang2 diatas.. haruskah ku lepaskan yg satu ini?
who would care about masalah personal? yup bener semua orang juga punya masalah, jadi jangan dijadiin alasan. -catet-
overall.. im really sorry for these mom… i don’t want to see you cry again. ya Allah jikalau ku harus mengedepankan satu permintaan..jagalah ibuku..
ya Allah.. sudah beberapa lama kumeninggalkan sholat malam. seperti inikah rasanya jika jauh dariMu? tebalkan dan jagala keimananku yang setipis kulit bawang ini

